Banner IDwebhost
Banner IDwebhost

Jaksa Stop Kasus Suami Tusuk Istri Karena Mabuk di Sulut

Banner IDwebhost

 

RealitaJayaSakti.Com,Jakarta – Kejaksaan Agung (Kejagung) menerapkan restorative justice atau keadilan restoratif terhadap kasus suami menusuk istrinya di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, Sulawesi Utara (Sulut). Kasus ini bermula ketika si suami yang suka mabuk kesal karena dianiaya istrinya.

Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Leonard Eben Ezer Simanjuntak menerangkan tersangka bernama Dikna Nalang alias Dikna dihentikan penuntutannya.

“Kamis 24 Februari 2022, Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum Dr. Fadil Zumhana menyetujui permohonan penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif perkara tindak pidana atas nama tersangka Dikna Nalang alias Dikna dari Kejaksaan Negeri Kepulauan Siau Tagulanang Biaro yang disangka melanggar primair, Pasal 351 Ayat (2) KUHP tentang Penganiayaan,” kata Leonard dalam keterangan pers tertulisnya, Jumat (25/2/2022).

Leonard menerangkan kasus ini bermula ketika tersangka Dikna menganiaya korban Risal Watimena. Penganiayaan itu terjadi di ruang tamu di rumah mereka.

“Bahwa tersangka Dikna Nalang alias Dikna pada hari Senin tanggal 20 Desember 2021, sekira pukul 17.30 WITA, bertempat di dalam ruangan tamu rumah tersangka dengan korban di Kampung Haasi Kec. Tagulandang Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, tersangka telah melakukan penganiayaan terhadap saksi korban Risal Watimena yang merupakan pasangan hidupnya selama 17 tahun lebih,” ucapnya.

Baca Juga :   TikTokers Berhijab Pamer P-nya, Ini Reaksi Muhammadiyah

Tersangka Dikna menusuk istrinya sebanyak satu kali dan mengakibatkan luka di bagian perut. Hal itu dilakukan tersangka lantaran merasa kesal sering dianiaya istrinya karena mabuk-mabukan.

“Dengan cara menusuk saksi korban Risal Watimena sebanyak satu kali, hal ini dilakukan oleh tersangka karena saksi korban Risal Watimena sudah sering menganiaya tersangka karena mabuk. Bahwa akibat dari penganiayaan yang dilakukan oleh tersangka, saksi korban mengalami luka di bagian perut korban,” ujarnya.

Jaksa kemudian menghentikan kasus ini. Ada pun alasan pemberian penghentian penuntutan berdasarkan restorative justice ini diberikan karena tersangka baru pertama kali melakukan perbuatan pidana atau belum pernah dihukum.

“Telah dilakukan perdamaian pada tanggal 17 Februari 2022 tanpa syarat antara tersangka dengan saksi korban karena merupakan pasangan suami istri selama 17 tahun lebih, dengan disaksikan keluarga dan tokoh masyarakat,” lanjut Leonard.
“Tersangka meminta maaf kepada korban dan korban telah menerima permohonan maaf tersangka,” imbuhnya.

Selanjutnya, Kepala Kejaksaan Negeri Kepulauan Siau Tagulanang Biaro akan menerbitkan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKP2) berdasarkan keadilan restoratif sebagai perwujudan kepastian hukum, berdasarkan Peraturan Jaksa Agung Nomor 15 Tahun 2020 tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif.

Perkara Penganiayaan di Boyolali Juga Disetop
Jaksa juga menghentikan kasus penganiayaan atas nama tersangka Margiyanto. Pria tersebut yang sebelumnya dijerat Pasal 351 Ayat (1) KUHP tentang Penganiayaan.

“Permohonan penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif perkara tindak pidana atas nama tersangka Margiyanto alias Bagong bin Margono dari Kejaksaan Negeri Boyolali,” tutur Leonard.
Kasus bermula saat tersangka dan 5 orang lainnya datang ke warung tenda. Antara tersangka dan korban terjadi percekcokan.
“Kemudian sekitar pukul 17.30 WIB datang saksi Korban dan anaknya di warung tersebut, lalu sekitar pukul 18.30 WIB, tersangka dan dan saksi korban terjadi percekcokan,” kata Leonard.

“Kemudian pada saat saksi Tarjo akan mengambil tas dan helm, tiba-tiba saksi Korban mengejar sambil mengangkat kursi, lalu anak saksi Korban juga ikut mengejar. Kemudian tersangka tarik kerah baju anak saksi korban dengan tangan kanan tersangka,” sambung Leonard.

Baca Juga :   Pantai Widuri Pemalang, Pengunjung Bisa Vaksin di Gerai Si Sambar

Setelah itu, tersangka tiba-tiba memukul korban dengan tangan mengepal. Korban luka di bagian pipi dan mengeluarkan darah.
“Setelah itu tiba-tiba tersangka dipukul oleh saksi korban sebanyak satu kali, dan tersangka membalas dengan memukul saksi korban dengan menggunakan tangan kiri tersangka dan posisi tangan mengepal mengenai pipi sebelah kanan saksi korban dan saat itu langsung luka mengeluarkan darah,” tutur Leonard.

Ada pun alasan pemberian penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif ini diberikan karena tersangka baru pertama kali melakukan perbuatan pidana atau belum pernah dihukum. Pasal yang disangkakan terhadap tersangka pidananya diancam dengan pidana penjara tidak lebih dari 5 (lima) tahun.

Baca Juga :   Wooooow.... Segini Gaji Ke-13 dan THR, PNS, TNI, POLRI serta Pensiunan Tahun 2022

“Tersangka meminta maaf kepada korban dan korban telah menerima permohonan maaf tersangka,” ujarnya. [Red-CH]

 

Banner IDwebhost Banner IDwebhost
Banner IDwebhost

Tinggalkan Balasan